Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Opini

Pertempuran di Kobani

September adalah bulan yang tidak bersahabat bagi penduduk kota Kobani. Kota yang terletak sekitar 135 kilometer sebelah timur laut Allepo dan persis di perbatasan antara Suriah dan Turki ini juga sering disebut Ayn al-Arab. Sejak 15 September lalu, kota berpenduduk sekitar 45.000 orang itu dikepung kelompok bersenjata NIIS. Sebagian besar penduduk Kobani adalah orang-orang Kurdi, selain mereka ada komunitas agama dan etnik lainnya, termasuk Arab, Assiria, Armenia, Kristen Syriac, dan Turkoman. Ribuan warga Kobani, terutama anak-anak, orang tua, dan perempuan, sebelum kota dikepung sudah mencari selamat dengan menyeberang perbatasan masuk wilayah Turki. Bukan tentara Bashar al-Assaad yang berjuang untuk menghadapi kelompok NIIS yang diperkuat tank dan kendaraan bersenjata lainnya, termasuk Humvee. Kendaraan dan mesin perang itu diperoleh NIIS antara lain ketika masuk dan menguasai Mosul, Irak bagian utara. Mereka merebut gudang persenjataan milik tentara Irak. Bashar al...

Piala, Moyes dan Wajah Baru MU

Reaksi pertama yang muncul sangat tenang. Tidak terlihat meledak-ledak untuk sebuah gol yang jelas sangat penting untuk kariernya yang baru. Sesaat setelah pertandingan berakhir, ia mengangkat piala pertamanya sepanjang karier kepelatihannya, Piala Community Shield 2013. Pria itu adalah David Moyes, manajer baru Manchester United.  Sebelum pertandingan final, melawan jawara Piala FA tahun lalu, Wigan Athletic di Stadion Wembley Minggu (12/08), MU dibawah Moyes mengalami fase buruk pada laga pra-musim. Melakukan tur pra-musim ke beberapa negara di Benua Asia dan Benua Amerika, MU hanya meraih hasil 2 menang, 2 imbang dan 3 kekalahan. Rangkaian hasil tersebut tentu membuat Moyes diragukan kemampuannya dalam menangani tim sebesar Manchester United. Tetapi, semua keraguan itu berhasil ia tepis, setelah mempersembahkan trofi pertamanya untuk Manchester United dan pertama pula untuk karirnya. David Moyes mengangkat Trofi pertamanya bagi MU, Community Shield Semua keraguan ...

Mengupas Emosionalitas Anas

Flo. K. Sapto W., PRAKTISI PEMASARAN, DOSEN TAMU DI MAGISTER MANAGEMENT FEB UNS Anas Urbaningrum Komisi Pemberantasan Korupsi pada akhirnya menetapkan Anas Urbaningrum (AU) sebagai tersangka. Ketua HMI periode 1997-1999 itu disangka terlibat dalam penerimaan gratifikasi sejumlah proyek. Sebagai konsekuensi dari pakta integritas yang sudah ditandatanganinya, AU kemudian mengundurkan diri sebagai Ketua Umum Partai Demokrat (PD). Terlepas dari proses pemulihan yang masih berjalan di internal PD, ada hal menarik yang bisa dipetik dari karut-marut di partai berlambang bintang Mercy ini, terutama terkait dengan figur sentral AU. Sulit disangkal bahwa AU telah berhasil merepresentasikan sebuah kapasitas tertentu. Kapasitas sebagai politisi karier yang matang secara emosionalitas. Hal itu terlihat sejak dirinya dikait-kaitkan dengan proyek koruptif Hambalang sampai dengan penetapannya sebagai tersangka. Nama AU mulai disebut-sebut oleh Nazaruddin pada Agustus 201...

Akhir Pengasingan

Pada 20 Januari lalu, manajer Roberto Mancini menyatakan peluang bagi Carlos Tevez untuk bermain lagi Manchester City sudah tertutup. Dua bulan kemudian ketika The Citizens kehilangan kendali dalam perebutan juara, Tevez berpeluang dilepas dari pengasingan. Ketika Mancini menutup pintu bagi Tevez, Man.City memimpin tiga angka dari peringkat kedua klasemen sementara Premier League. Mereka pun dilabeli favorit juara. Namun, seiring waktu, The Citizens tersingkir dari Piala Liga dan Liga Europa. Di Premier League, hasil buruk tidak bisa ditahan. Akibatnya, posisi puncak digeser oleh Manchester United. Tak ayal, ide untuk menarik kembali Tevez mendadak terlihat sebagai solusi apik. Kembalinya Tevez disambut baik para punggawa The Citizens. Ketika pertama kali hadir di markas latihan klub di Carrington, defender Micah Richards sangat girang. Richards menyambutnya lalu mengangkatnya ke udara. “Aku selalu menyukai Tevez,” kata Richards sebelum berlaga melawan Sporting Lisbon pada l...

Kecanduan Seri

Trofi juara sering dianggap sudah diraih sejak musim ini bergulir. Dengan 11 laga tersisa di Serie A, untuk pertama kalinya sejak musim ini Juventus menjauh dari puncak klasemen. Sejak Awal, I Bianconeri memimpin klasemen. Meski sejumlah pertandingannya ditunda akibat cuaca buruk, secara virtual mereka tetap di puncak. Semua juga menganggap Juventus akan mampu mengatasi Bologna dan Parma pada partai tunda dengan mudah. Tetapi, mendekati hadirnya musim semi ini, pasukan Juventus seperti masih berhibernasi. Pelatih Antonio Conte terancam membuang scudetto yang dimata suporter sudah menjadi target realistis musim ini. Mungkin hal tersebut malah menjadi beban yang menggantung di leher para punggawa I Bianconeri. Mungkin juga justru rekor tak terkalahkan itu yang mengganggu. Tiba-tiba sekarang, bermain dua kali dalam sepekan memforsir fisik Juventus. Efeknya terasa dalam segi hasil. Mereka meraih enam kali seri dalam tujuh laga terakhir. Tiga diantaranya bahkan dilalui tanpa mencet...

Wenger Tertekan

Oleh: Richard Aikman*/Tabloid Soccer/25 Februari 2012 HANYA dalam tempo satu pekan, suasana yang terjadi di kubu Arsenal berubah 180 derajat. Keceriaan setelah berhasil mengambil alih posisi keempat klasemen dari Chelsea pada pekan sebelumnya, seolah sirna Cuma dalam rentang empat hari. Kekalahan telak dari AC Milan pada laga pertama babak 16-besar Liga Champions plus disingkirkan Sunderland di ajang Piala FA menjadi dasarnya. Paling menyakitkan tentu saja saat dibantai 0-4 oleh Milan. Itulah kekalahan terbesar The Gunners di ajang Liga Champions. Arsene Wenger yang biasanya selalu berdalih dengan menyudutkan faktor eksternal usai mendapatkan kekalahan telak, terlihat begitu terpukul. “Ini adalah malam yang takkan pernah terlupakan,” ungkap Wenger usai timnya kalah di San Siro. “Ini adalah performa terburuk kami di kompetisi Eropa. Kami dihukum dan pantas mendapatkan kekalahan ini. Saya merasa pemain tidak benar-benar bermain. Kami sangat buruk dalam bertahan dan menyerang. S...

Semua Ada Di Pikiran

Oleh: Susi Campanale*/Tabloid Soccer/18 Februari 2012 Pernyataan pelatih novara, Emiliano Mondonico, sangat menarik. Demikian perkataan yang meluncur dari mulutnya, “Kami seharusnya tidak boleh malu terhadap catenaccio.” Mondonico tidak membual. Benteng ketat tim asuhannya mampu menghadirkan kemenangan 1-0 atas Inter Milan di Stadion Giuseppe Meazza (12/2). Kebetulan, kekalahan dari Novara pada paruh pertama pula yang membuat Gian Piero Gasperini turun dari kursi pelatih I Nerazzurri. Jadi, sistem tiga bek tidak bisa menjadi kambing hitam. Inter tengah butuh pelatih mental, seorang psikolog olahraga yang bisa menangani tim bertekanan tinggi. Sungguh menyesakkan melihat tujuh kemenangan beruntun yang sempat mengembalikan ke trek juara sia-sia belaka. Empat laga terakhir di Serie-A, pasukan asuhan Claudio Ranieri hanya meraih satu poin. Perubahan begitu drastis. Penyebabnya ada dua kemungkinan. Inter sanggup bangkit karena antusiasme yang menggelora. Tapi, mereka juga rapuh ka...

Kalau Bukan Nasi, Enaknya Makan Apa?

Beberapa waktu lalu, Pemerintah pernah melakukan kebijakan impor beras untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Menurut Koran Kompas, sekitar 2-3 bulan yang lalu yang kebetulan saya baca, kebutuhan rakyat Indonesia akan beras merupakan yang tertinggi (kalau tidak salah) se-Asia Tenggara. Lagi, menurut data Kementerian Pertanian (Mentan) kebutuhan akan beras Indonesia bisa mencapai 139 kg per kapita per tahun. Kebijakan Impor beras tersebut memang mungkin menurut sebagian orang sangat mengagetkan karena kita masih beranggapan bahwa Indonesia "belum pantas" untuk mengimpor beras. Rakyat, termasuk saya, masih banyak yang menilai Indonesia seharusnya surplus beras, namun ternyata kenyataannya tidak. Hal itu diperparah dengan semakin menyusutnya lahan produktif untuk pertanian. Tentang kurangnya lahan pertanian, menurut Kompas.com, Di Sukoharjo, Jawa Tengah, Harno, petani, menuturkan pembelian lahan petani sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu. Ia mengungkapkan, lahan miliknya...

PERINGATAN 100 HARI PEMERINTAHAN SBY II

Kamis, 28 Januari 2010 kemarin masa Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah memasuki 100 hari. Hari itu disambut dengan demo massa dari kalangan petani, buruh, masyarakat umum hingga mahasiswa. Demo massa dilakukan di berbagai daerah di tanah air dan beberapa titik di Ibukota Jakarta. Para pendemo umumnya menyuarakan bahwa pemerintahan 100 hari Presiden Yudhoyono telah gagal. Pada umumnya para pendemo menyuarakan akan kegagalan pelaksanaan program 100 hari. Mereka menunjuk dua hal utama yaitu kasus perseteruan Polri dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kasus bailout Bank Century. Kedua kasus itu dianggap memiliki pengaruh besar terhadap pemerintahan Presiden Yudhoyono jilid 2 ini. Menurut data hasil survei LSI ( Lembaga Survei Indonesia ), popularitas SBY mengalami penurunan di mata publik, walau hanya turun beberapa digit dan dinilai belum memiliki pengaruh yang berarti yakni dari 70% turun ke 65%. Kedua kasus besar itu, Polri Vs KPK dan Kasus Bank Century, se...

Arsenal Bangkitlah!!!

Musim 2009/2010 merupakan musim yang dapat dikatakan berbeda bagi pelatih Arsene Wenger. Mengawali musim dengan meyakinkan, terlepas dari hasil kekalahan mengecewakan dari Manchester United, kini Arsenal telah bangkit. Catatan torehan gol-gol yang dilesakkan sampai pekan 12 membuktikannya. Kini Arsenal mencatat 36 gol. Yang tertinggi diantara para anggota the big four. Tapi apakah itu pertanda bahwa Arsenal telah matang dalam usaha perebutan title juara liga Inggris tahun ini? Untuk saat ini, keadaan memang menunjukkan keadaan yang positif. Tetapi sinyal bahaya muncul di pekan 13 yakni saat Arsenal melawat ke Stadium of Light milik Sunderland. Tanpa Robin Van Persie sebagai ujung tombak serangan, Arsenal terlihat kurang memaksimalkan peluang-peluang yang terjadi.Sehingga pada akhir laga Arsenal dipaksa menyerah dengan gol semata wayang Darren Bent. Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah bagi Arsene Wenger. Sebenarnya yang diperlukan Arsenal adalah sebuah mental juara. 5 tahun tanpa ...