Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Internasional

Hun Sen Rayakan 30 Tahun Berkuasa

NEAK LOEUNG – Perdana Menteri Kamboja Hun Sen merayakan 30 tahun kepemimpinannya, Rabu (14/1). Orang kuat Kamboja tersebut mengungkapkan perannya mempersatukan negeri, yang tercerai-berai akibat perang saudara saat dikuasai kekuatan komunis Khmer Merah, dan ketika dianeksasi Vietnam. “Saya haturkan terima kasih kepada mereka yang bilang saya baik atau buruk. Tanpa tangan Hun Sen, tak akan ada namanya kesepakatan damai Paris,” ujar Hun Sen. Dia merujuk pada perjanjian damai yang mengakhiri perang Kamboja-Vietnam, 23 Oktober 1991, yang ditandatangani di Paris, Perancis. Peringatan tiga dekade kepemimpinan Hun Sen dilaksanakan bersamaan dengan peresmian jembatan di atas Sungai Mekong, di Neak Loeung, 60 kilometer tenggara ibu kota Phnom Penh. Kesepakatan damai Paris memberi otoritas kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mengawasi gencatan senjata dan pemilihan umum setelah perang saudara di Kamboja. “Jika seorang Hun Sen tidak masuk ke dalam lubang berisi harimau, dapatkah kita m...

Di Balik Kisah Secangkir Kopi

Dari satu KTT ke KTT lain, yang berubah hanya balutan kain yang dikenakan para kepala negara. Begitu kata anekdot. Bahkan, susunan kalimat komunike bersama Konferensi Tingkat Tinggi G-20 di Brisbane, 15-16 November, tak jauh berbeda dengan hasil akhir KTT G-20 pada 2013 di St Petersburg, Rusia. Kalau begitu apa yang berubah? Orang tetap membayar pajak 10 persen untuk secangkir kopi, padahal perusahaan penjual kopi itu hampir tak membayar pajak, untuk menyebut sebuah contoh. Itu karena perusahaan raksasa sekelas Starbucks, News Corps, Google, atau IKEA sengaja membuka kantor pusat di negara kecil semacam Luksemburg, Liechtenstein, atau Kepulauan Cayman. Keuntungan yang mereka sedot dari banyak negara hanya dipajaki 1-2 persen. Ini jelas tidak adil. Belum lagi kalau menilik pajak-pajak lain, seperti pajak penghasilan orang per orang, yang di Australia mencapai minimum 30 persen. Bagaimana membuat dunia ini lebih adil? Itulah salah satu topik yang dibicarakan 20 kepala peme...

AS, Islamofobia, dan Ben Affleck

Serangan teroris terhadap gedung kembar World Trade Center di New York, Amerika Serikat, telah lama berlalu. Namun, Islamofobia masih terus bercokol di negeri itu hingga saat ini. Aktor populer Hollywood, Ben Affleck, mengecam islamofobia di AS tersebut dalam sebuah acara televisi di AS. Dalam kesempatan promosi film terbarunya berjudul Gone Girl di talk show HBO, Real Time with Bill Maher, Jumat malam pekan lalu, Affleck yang terkenal dengan pandangan progresifnya menyampaikan pembelaannya kepada kaum muslim sedunia. Pembelaannya terhadap Islam dia sampaikan ketika percakapan talk show tersebut membahas tentang Islam. Salah seorang pembicara tamu, Sam Harris, pemikir liberal, mengklaim bahwa 20 persen umat Muslim di dunia adalah penganut Islam garis keras. Menurut Sam, hal itu didasarkan pada hasil "sejumlah jajak pendapat". Afflect, yang pernah meraih Oscar, langsung bereaksi atas pandangan Harris terhadap umat Islam. "Jadi Anda mengatakan bahwa Islamo...

Pertempuran di Kobani

September adalah bulan yang tidak bersahabat bagi penduduk kota Kobani. Kota yang terletak sekitar 135 kilometer sebelah timur laut Allepo dan persis di perbatasan antara Suriah dan Turki ini juga sering disebut Ayn al-Arab. Sejak 15 September lalu, kota berpenduduk sekitar 45.000 orang itu dikepung kelompok bersenjata NIIS. Sebagian besar penduduk Kobani adalah orang-orang Kurdi, selain mereka ada komunitas agama dan etnik lainnya, termasuk Arab, Assiria, Armenia, Kristen Syriac, dan Turkoman. Ribuan warga Kobani, terutama anak-anak, orang tua, dan perempuan, sebelum kota dikepung sudah mencari selamat dengan menyeberang perbatasan masuk wilayah Turki. Bukan tentara Bashar al-Assaad yang berjuang untuk menghadapi kelompok NIIS yang diperkuat tank dan kendaraan bersenjata lainnya, termasuk Humvee. Kendaraan dan mesin perang itu diperoleh NIIS antara lain ketika masuk dan menguasai Mosul, Irak bagian utara. Mereka merebut gudang persenjataan milik tentara Irak. Bashar al...

Keadilan Di Ujung Harapan

TRAGEDI SREBRENICA PERANG dimanapun itu terjadi, menyeret semua yang ada di sekitarnya dalam kepedihan yang begitu hebat. Kehilangan kerabat, anak, istri, atau suami adalah perih yang terus menyayat hati. Meskipun tak ada yang mampu menghapus lara itu, setitik keadilan diyakini mampu membuka harapan bahwa perang dan kejahatan yang ada di dalamnya tak diulang. Itulah yang dirasakan Munira Subasic, salah seorang wakil dari kelompok Ibu Srebrenica, kelompok penggugat yang mempersoalkan pembunuhan terhadap lebih dari 300 pria dan anak laki-laki Muslim Bosnia di Srebrenica ketika perang berkecamuk di wilayah itu. Terang harapan akan hadirnya keadilan itu mulai tampak, pertengahan Juli, tepatnya Rabu, 16 Juli, ketika pengadilan  distrik di Den Haag, Belanda, memutuskan bahwa Belanda bertanggung jawab atas pembantaian yang dinilai terburuk di Eropa pasca Perang Dunia II. Keluarga korban menggugat Pemerintah Belanda yang tergabung dalam pasukan penjaga perdamaian Perserikatan ...

Turki Sukses setelah 10 Tahun, Rusia Gagal Total

Bola panas isu redenominasi rupiah mulai bergulir. Suara pro dan kontra mulai bersahutan. Maklum saja, jika terlaksana, redenominasi rupiah akan berimbas pada semua orang yang menggunakan mata uang rupiah sebagai alat transaksi. Karena Indonesia bukan negara pertama, tak ada salahnya belajar dari negara yang gagal dan sukses melakukannya. Dalam kajian tentang redenominasi , literatur yang banyak dijadikan rujukan, antara lain, tulisan The National Currency Redenomination Experience in Several Countries atau Pengalaman Redenominasi Mata Uang Nasional di Berbagai Negara karya Duca Ioana, seorang akademisi dari Rumania. Redenominasi sebenarnya memiliki sejarah panjang. Pada abad ke-19 di Eropa, ketika negara kekurangan pasokan emas atau perak, pemerintah sering menyesuaikan nilai mata uang mereka. Itu merupakan bagian dari konsep redenominasi. Namun, redenominasi dalam bentuk pengurangan atau penyederhanaan anka nol mulai banyak dilakukan di berbagai negara sejak 1923. Ketika...