Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Catatan Pinggir TEMPO

Hatta Sebagai Pancasilais

Dalam sebuah lokakarya tentang sosialisasi empat pilar oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, saya pernah ditanyai apakah ada tokoh yang pernah menerapkan Pancasila dalam kehidupannya? Ada, jawab saya, dan salah satu tokoh itu adalah Mohammad Hatta , yang lahir di Bukittinggi, 12 Agustus 1902. Mohammad Hatta menduduki posisi strategis dalam sejarah Indonesia paling sedikit pada lima tonggak penting kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada masing-masing fase ini, ia sesungguhnya telah melaksanakan Pancasila. Pertama, sebelum Indonesia Merdeka, Hatta, yang belajar di negeri Belanda, aktif dalam Indonesische Vereeniging yang kemudian berganti nama menjadi Perhimpoenan Indonesia, dan beberapa periode menjadi ketua. Perkumpulan ini menerbitkan majalah Indonesia Merdeka, yang juga dibaca oleh aktivis pergerakan di Tanah Air. Yang lebih penting lagi, pada 1925, mereka mengeluarkan Manifesto Politik yang dianggap Sartono Kartodirdjo lebih komprehensif dari Sumpah Pemuda 1928. Sementara dala...

LEBARAN

Lebaran adalah ketupat dan permintaan maaf. Ada unsur perut, tentu, tapi sekaligus juga unsur yang tidak hanya perut. Dan tentu saja tidak hanya perutku sendiri. Permintaan maaf adalah sebuah isyarat yang mengakui: saya salah. Saya salah dalam bersikap terhadap dan berbicara tentang orang lain, tentang keadaan di luar diri saya, tentang dunia yang tak termasuk kesadaran saya. Permintaan maaf adalah   sebuah pengakuan bahwa orang selalu hidup dengan tafsir, dalam tafsir, dan karena tafsir. Tak ada kenyataan   yang terkena tafsir. Tak ada fakta yang tak terpoles, tak diwarnai, sikap seseorang dan masyarakatnya dalam membaca kenyataan atau fakta itu. Dan tidak tiap tafsir dapat dikomunikasikan dengan sempurna ke orang lain, karena orang lain itu juga punya polesannya sendiri. Itu sebabnya, pemahaman penuh dan kesepakatan adalah sebuah utopia. Kesadaran tentang ini tak serta merta akan berakhir dengan putus asa. Ia bahkan sesuatu yang mendorong kita untuk be...

Mengadili Penganiaya Jurnalis

Editorial TEMPO Jum at, 01 Juni 2012 Sulit untuk menilai bahwa pemerintah telah serius menjamin kemerdekaan pers. Pembredelan media memang tak terjadi lagi. Tapi banyaknya kekerasan yang dialami jurnalis jelas menunjukkan lemahnya pemerintah menjaga amanah konstitusi ini. Apalagi para pengancam atau penganiaya wartawan kerap luput dari jerat hukum. Lihatlah, dalam sepekan ini sederet kekerasan dan intimidasi terhadap jurnalis terjadi secara berturut-turut. Di Padang, Sumatera Barat, sejumlah serdadu dari Kesatuan Marinir Angkatan Laut memukuli tujuh jurnalis yang sedang meliput penertiban warung remang-remang. Akibatnya, para kuli tinta itu menderita luka memar dan trauma. Tak hanya menganiaya, para serdadu tersebut juga merusak kamera yang digunakan wartawan. Kekerasan lain berlangsung di Batam. Kali ini pelakunya seorang tentara anggota Komando Distrik Militer setempat. Dia merampas kamera milik seorang jurnalis televisi yang sedang meliput antrean akibat kelangkaan bahan bak...