Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2013

Bergerak di dalam Realita

  Satu minggu ini, saya merasakan kepenatan yang amat sangat. Mungkin kalau diberi tingkat penilaian antara 1-10, saya akan memilih angka 9. Tanggung jawab sebagai mahasiswa magang di sebuah instansi pelayanan psikologi dan beban mahasiswa tingkat akhir untuk menyelesaikan skripsi seakan tertumpuk semua di pundak saya. Seminggu ini kebetulan saja, klien-klien kami berdatangan. Saya merasa rasa syukur tetap ada, namun juga beriringan dengan rasa lelah. Anda masih ingat film Banyu Biru? Film Indonesia yang dibuat tahun 2005 silam dengan bintang Tora Sudiro, Dian Sastrowardoyo hingga aktor senior Slamet Rahardjo, berhasil membuat saya merenungkan kembali keadaan saya saat ini. Dalam film tersebut, Banyu (Tora Sudiro) diceritakan mencari jawaban tentang permasalahan hidup yang dideranya. Bekerja di bagian pelayanan konsumen di sebuah supermarket, Banyu mendapatkan hidupnya penuh masalah. Kawan sekerjanya, selalu datang untuk meminta bantuan tanpa pernah memperhatikan keadaanny

Jika Lupa sudah Dipolitisasi

Beberapa media nasional cetak maupun elektronik dua hari lalu, menggunakan headline berita mereka tentang rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Rencana kenaikan BBM bersubsidi sekitar Rp. 2.000 dari harga awal Rp. 4.500 per liter. Jika rencana tersebut di “yes” kan oleh presiden, maka harga baru BBM menjadi Rp. 6.500 per liter untuk premium dan Rp. 5.500 untuk solar. Kenaikan ini tentu banyak menimbulkan pro dan kontra. Bagi pihak yang pro kenaikan BBM, tentu tidak menanggapi seheboh dengan pihak-pihak yang kontra kebijakan tersebut. Bahkan, beberapa oknum atau kalangan akademisi (baca: mahasiswa) sampai melakukan aksi unjuk rasa yang dibarengi tindakan anarkis, seperti membakar ban hingga bentrokan dengan aparat. Sungguh sangat disayangkan. Beberapa waktu lalu tentu kita masih ingat, banyak pihak yang menyayangkan subsidi BBM yang dianggap terlalu besar. Besarnya subsidi BBM disebabkan keekonomian harga BBM premium yang kita beli sehari-hari sekitar Rp. 9.500 – Rp. 10.0

Belajar Kehidupan dari Sepak Bola

Kemenangan Bayern Munchen di ajang Liga Champions musim ini dengan skuad muda dan permainan cepat banyak memikat semua kalangan. Para analis bola dunia tidak sungkan untuk menyematkan “yang terbaik” bagi Bayern Munchen. Disisi lain, kepergian sang pelatih utama, Jupp Heynckess musim depan kali ini banyak disesalkan. Ya kursi kepelatihan musim depan, akan diganti oleh pelatih muda sensasional Pep Guardiola. Pep berhasil mempersembahkan 16 trophy dalam empat tahun kepelatihannya bagi Barcelona (2008-2012). Kembali ke Bayern, terutama Heynckes. Saya masih ingat ketika Heynckes menapakkan kakinya pertama kali di Allianz Arena musim 2010/2011 lalu. Ia melanjutkan tongkat estafet “lusuh” dari Juergen Klinsmann. Bayern saat itu dalam keadaan compang-camping di liga domestik. Masa-masa sulit pun dilalui dengan nirgelar pada 2011/2012. Padahal Die Roten, sebutan Bayern, berhasil masuk final Liga Champions tapi digagalkan oleh Chelsea. Selain itu, Borussia Dortmund justru sedang on fire.

Terbit Majalah, Terbit Harapan

Saya tertegun dengan majalah yang ada di tangan saya. Saya masih ingat dengan jelas bagaimana dahulu saya dan kawan-kawan memperjuangkan pembuatan majalah ini. Tapi harapan itu hanya menguap begitu saja. Banyak friksi yang membuat kami tak merealisasikan harapan ini. Tetapi kini, majalah yang dahulu hanya sebuah harapan, kini benar-benar di tangan saya. Perasaan saya jelas sangat bercampur dan bangga. Maklum terbitan majalah sudah hampir lima tahun tidak terbit dari organisasi kami. Saya memang sudah tidak ikut campur dalam pembuatan majalah itu, tetapi saya masih dapat merasakan sebuah spirit dan kepuasan menghasilkan suatu karya. Ini sebuah pembuktian bahwa sebuah usaha keras dan berkesinambungan tetap akan menghasilkan suatu karya. Gambaran perasaan saya ini juga terlihat jelas saat launching majalah. Acara digelar dengan suasana khas organisasi mahasiswa, semi informal, lesehan dan semua yang masih berbau dengan “maha” siswa. Semua tamu masing-masing memegang majalah