Langsung ke konten utama

Postingan

Masa Depan Sejak Kini

Handphone masih diam. Tak ada pesan masuk satupun kecuali dari operator seluler yang tetap setia mengirimkan pesan broadcast. Saya menunggu satu pesan masuk. Yang semestinya sudah datang sejak siang tadi. Tapi hingga larut malam kini, pesan itu belum juga muncul. Datangnya pesan itu jelas suatu hal penting bagi saya. Karena untuk mengetahui kepastian isi pesan itu pun, saya telah mempersiapkan segala sesuatunya jauh-jauh hari. Meski saya tetap menyadari, resiko kegagalan itu tetaplah ada. Kini, pesan itu tetaplah belum datang. Mungkin hanya menjadi kotak pesan kosong di handphone saya. Bayang-bayang ketidakberhasilan pun menggelayut dalam benak. Meski saya sudah kerap merasakan, tapi sungguh ini bukan perasaan yang enak untuk dirasakan. Betapa tidak enaknya, pikiran saya menerawang jauh. Bagaimana kalau posisi pemberi pesan itu adalah anak-anakku kelak? Bagaimana jika mereka akan memperlakukan seseorang yang ingin berkenalan dengannya, tapi menyikapinya secara tidak mengenakkan? Se...

Belum Ketemu Saja...

Penghujung tahun sudah di depan mata. Waktu terus bergulir ke arah itu. Setiap pagi, adzan shubuh menggema dan embun masih menetes di tanaman pot Pak RT depan rumah. Kucing berjalan pelan seperti habis semalaman berburu. Entah berburu apa, silahkan tanya sendiri. Tanah masih basah sisa hujan semalam. Hawa dingin dan segar masih terasa menempel di pori-pori kulit. Aku tetap melangkah beriring dengan pikiran yang terus berkata. Selamat pagi untukmu yang ada disana... Mungkin jika sudah waktunya, aku tidak akan berjalan sendiri seperti saat ini... Ya jika itu ada kamu... Pikiran itu tetap berlanjut. Kini ia berputar mundur... Kamu tahu? Sampai saat penghujung tahun ini banyak yang sudah kulewati... Sangat banyak... Dan kamu tahu? Aku ingin kita bisa saling bicara banyak... Aku ceritakan ceritaku, dan ku simak ceritamu... Sepertinya menarik... Akan kuceritakan kalau aku pernah pergi sampai lereng gunung di daerah Temanggung... Ya kamu tahu, laki-laki ...

Jika Tak Dikejar, Jodoh Pun Lari

TULISAN diatas adalah judul headline dari Harian TEMPO Ahad yang terbit empat Oktober lalu. Tema yang diangkat tentang biro jodoh dan seluk beluk didalamnya. Mulai dari latar belakang pendirian biro hingga metode yang digunakan untuk mempertemukan antara dua insan. Saya sendiri awalnya kaget membaca judul itu. Sampai segitunya TEMPO mengangkat tema tentang biro jodoh. Mungkinkah keberadaan biro jodoh saat ini memang sudah menjadi sebuah gaya hidup (lifestyle) dikalangan manusia negeri ini? sampai-sampai TEMPO mengangkatnya menjadi tema utama. Membaca paragraf pembuka ( lead ) saya makin tertegun. Bukan karena keadaan saya yang saat ini masih lajang. Kalau kata anak muda jaman sekarang namanya “Jomblo”. Saya tertegun dengan tulisan lead itu. Tertulis seperti ini: Jumlah lajang di negeri ini terus meningkat dan mereka tak segan menggunakan biro jodoh untuk menemukan pasangannya... Poin perhatian saya jatuh di kata-kata “Jumlah lajang terus meningkat” dan “Tak segan m...