Langsung ke konten utama

Postingan

Membanding

AHAD pagi ini matahari bersinar terang. Sangat nyaman dan tidak terlalu menyorot panas. Seperti biasa saya sudah siap sejak pagi, mulai dari mandi dan sarapan. Hingga bersiap untuk pergi ke loper koran untuk mendapatkan harian Ahad pagi yang lebih ringan. Koran Ahad pagi selalu menawarkan sudut pandang berbeda tentang kehidupan di Republik ini, yang penuh dengan kegaduhan. Menelpon Pagi ini, setelah sarapan dengan sepiring nasi berlaukan telur dadar dan secangkir teh hangat, saya mesti mengantarkan saudara saya ke tempat cukur rambut. Saya teringat untuk mengambil koran langganan di kantor tempat saya bekerja. Jadi saya putuskan, setelah men-drop kakak saya di tempat cukur, langsung saya menuju kantor. Seperti biasa, koran sudah ada di pos satpam. Setelah sedikit berbincang dengan satpam yang berjaga, saya teringat untuk menelpon seorang kawan. Saya ingin mengkonfirmasikan apakah kiriman saya sudah sampai belum ke dirinya. Lalu saya cari nama kontak di gawai, lalu menelp...

UPP Esok

RASANYA baru kemarin saya meninggalkan tempat ini. Sebuah tempat dimana saya dapat merasakan apa itu dedikasi dan integritas secara maksimal. Sebuah tempat yang menempa saya untuk semakin pandai berinteraksi dan berkomunikasi dengan berbagai macam tipe orang. Sebuah tempat yang saya rindukan untuk kembali. Akhirnya memang saya kembali lagi. Setahun sudah saya meninggalkan tempat ini. Tempat ini bernama Unit Pelayanan Psikologi (selanjutnya dituliskan dengan “UPP”). Setahun yang lalu, saya sempat berhenti sejenak di sebuah kota antara Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, Temanggung. Sebuah kota yang sejuk, dingin, bersih, dan ramah. Waktu saya tidak lama, hingga akhirnya datang tawaran untuk kembali ke UPP lagi. Setahun itu pula, segalanya berubah di UPP. Meski tetap menyisakan beberapa momen masa lalu. Momen dimana saya dan tim asisten psikolog era saya dulu, berjuang dan menyisihkan waktu untuk memuluskan semua proyek yang datang. Semua gambaran pengalaman itu masih berp...

The Book of The Future

AHAD lalu, kawan saya dari Thailand kembali lagi. Ia kembali dari kampung halaman di “Negeri Gajah Putih”. Namanya Nasruddeen Sa’aae, kalau versi Indonesianya jadi “Suhemi”. Katanya ia mendapatkan nama itu ketika ia belajar bahasa Indonesia selama 6 bulan di Surabaya, sebelum ia melanjutkan studi S1 nya di Yogyakarta. Suhemi ini bukan kawan sekelas atau se-kampus saya. Ia kawan dari Bagus, saudara kembar saya. Sudah jadi suatu, ketentuan tak tertulis, teman dari kakak kembaran adalah juga teman bagi adiknya yang kembar. Tapi peraturan itu tentu tidak bisa diterapkan pada kisah “percintaan” he..he.. Karena sudah sering berinteraksi, jadi kami bersahabat pula. Ia kawan yang baik, termasuk kawan-kawannya yang sesama dari negeri Thailand. Kami bersahabat dan juga sama-sama “gila”. Tapi ia jelas lebih “gila” dari saya. Nah karena sudah bertahun-tahun berinteraksi, timbullah keinginan untuk belajar tentang negerinya. Saya sering mengajaknya berdiskusi tentang hubungan anta...