Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2014

Apresiasi Untuk Presiden Keenam

Era kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono resmi berakhir Senin (20/10) kemarin. Dengan berbagai catatan, kita memberi apresiasi sendiri. Kita mendengar komentar, waktu acap menampilkan wajah yang tak kenal ampun. Era baru sering dengan mudah membuat orang lupa akan yang lama, terlebih ketika euforia dan bulan madu tengah datang. Satu hal yang kita ingat, sebagai Presiden, SBY-demikian presiden keenam akrab dipanggil-tampil sebagai orang nomor satu di republik ini dengan ekspektasi yang amat besar. Bahkan, kemenangannya dalam Pemilu Presiden 2009 memberi tidak saja harapan, tetapi juga kuatnya kepercayaan rakyat terhadap sosok yang pernah meniti karier militer dan juga berorientasi intelektual ini. Ketika masa jabatannya berakhir, rakyat Indonesia bisa bersaksi, di mana SBY berhasil dan di mana kekurangannya. Namun, SBY meninggalkan kepresidenannya dalam akhir yang baik dan penuh dengan kehormatan. Sikap yang diperlihatkannya kepada penerus serta munculnya t

AS, Islamofobia, dan Ben Affleck

Serangan teroris terhadap gedung kembar World Trade Center di New York, Amerika Serikat, telah lama berlalu. Namun, Islamofobia masih terus bercokol di negeri itu hingga saat ini. Aktor populer Hollywood, Ben Affleck, mengecam islamofobia di AS tersebut dalam sebuah acara televisi di AS. Dalam kesempatan promosi film terbarunya berjudul Gone Girl di talk show HBO, Real Time with Bill Maher, Jumat malam pekan lalu, Affleck yang terkenal dengan pandangan progresifnya menyampaikan pembelaannya kepada kaum muslim sedunia. Pembelaannya terhadap Islam dia sampaikan ketika percakapan talk show tersebut membahas tentang Islam. Salah seorang pembicara tamu, Sam Harris, pemikir liberal, mengklaim bahwa 20 persen umat Muslim di dunia adalah penganut Islam garis keras. Menurut Sam, hal itu didasarkan pada hasil "sejumlah jajak pendapat". Afflect, yang pernah meraih Oscar, langsung bereaksi atas pandangan Harris terhadap umat Islam. "Jadi Anda mengatakan bahwa Islamo

Pertempuran di Kobani

September adalah bulan yang tidak bersahabat bagi penduduk kota Kobani. Kota yang terletak sekitar 135 kilometer sebelah timur laut Allepo dan persis di perbatasan antara Suriah dan Turki ini juga sering disebut Ayn al-Arab. Sejak 15 September lalu, kota berpenduduk sekitar 45.000 orang itu dikepung kelompok bersenjata NIIS. Sebagian besar penduduk Kobani adalah orang-orang Kurdi, selain mereka ada komunitas agama dan etnik lainnya, termasuk Arab, Assiria, Armenia, Kristen Syriac, dan Turkoman. Ribuan warga Kobani, terutama anak-anak, orang tua, dan perempuan, sebelum kota dikepung sudah mencari selamat dengan menyeberang perbatasan masuk wilayah Turki. Bukan tentara Bashar al-Assaad yang berjuang untuk menghadapi kelompok NIIS yang diperkuat tank dan kendaraan bersenjata lainnya, termasuk Humvee. Kendaraan dan mesin perang itu diperoleh NIIS antara lain ketika masuk dan menguasai Mosul, Irak bagian utara. Mereka merebut gudang persenjataan milik tentara Irak. Bashar al